Monday, November 5, 2007

To Turkey

Here is my article I wrote in Central Java Newspaper, SUARA MERDEKA. I have got always E 20 per page. OK ... it was my time represented IIWC of PKBI Jateng at Technical Meeting ALLIANCE in Antalya. It's a touristic and an old city in Turkey. I stayed for 3 days there in Khan Hotel which was organized by GSM Turkey. Thanks, IIWC.

Pesona Antalya Tua

PESONA Turki bahkan telah tampak begitu Anda menapakkan kaki di Bandara Ataturk di Istambul. Betapa tidak? Negeri berpenduduk 67,8 juta jiwa dengan luas tak sampai satu juta meter persegi itu begitu cantik. Di sana sini terlihat bangunan berinfrastruktur modern. Boleh jadi, itu ujud kebanggaan Turki setelah menjadi anggota Uni Eropa. Kalau boleh dibilang, negeri yang menggunakan abjad Latin itu kini mulai gigih mengikis olok-olok "Eropa nanggung".

Setelah hampir sehari penuh "terkungkung" di pesawat, rasanya lega begitu saya mendarat tiba di Istambul. Dari Jakarta pesawat berangkat pukul 1.00 dinihari dan baru mendarat pukul 18.00 di Istambul. Selisih waktunya kira-kira 4 jam lebih lambat dari Indonesia.

Meski begitu, saya tak bisa langsung mengistirahatkan badan. Dari kota yang dahulu masyhur dengan sebutan Konstantinopel itu, perjalanan saya harus berlanjut ke Kota Antalya. Di situ pertemuan TM Alliance (sebuah organisasi pemuda seluruh dunia) diselengarakan Genclik Servisleri Merkezi Youth Service (GSMYS).

Begitu berada di pintu gerbang bandara Istambul, saya menuju agen perjalanan "The Last Minute". Sejumlah penerbangan ditawarkan. Mulai dari yang paling mahal seperti Turkish Airlines hingga yang termurah seperti Skyfly atau Onuair. Akhirnya saya pilih Onuair dengan penerbangan pukul 19.30. Rasanya agak janggal ketika tahu bahwa harga tiket yang awalnya hanya 50 Turkish Lira, tiba-tiba berubah menjadi 120 TL atau 80 Euro.

Ah, tapi tanpa berpikir panjang saya toh berangkat pula, mengingat mendesaknya acara yang harus saya ikuti. Sebagai penawar hati, pramuwisata dari agen perjalanan itu berbaik hati membawakan satu troli dan mengantar hingga tempat boarding.

Ada pengalaman tak menyenangkan selama "penantian" itu. Saya kalang kabut lantaran sebuah tas tiba-tiba hilang. Buru-buru saya lapor petugas. Mereka pun kontan saja kebingungan.

"Where did you put your baggage (Di mana anda menaruh tas)?" tanya seorang petugas perempuan

"I took it from boarding and passed it through the screen then I forgot to bring it with me (Saya membawanya dari tempat boarding dan melewatkan melalui alat pengaman. Kemudian, saya lupa membawanya)," jawab saya setengah memelas.

"Anda yakin sudah melalui alat pengaman dengan tas anda? Apa yang ada di dalamnya? Uang?" sela petugas pria.

"Bukan! Warna tas saya hitam dan ada tulisan nama saya di sana. Isinya cuma baju dan berkas-berkas. Oh, saya benar-benar kehilangan!"

Salah satu petugas lain mengajak saya keliling bandara untuk mencarinya. Beberapa detik kemudian, sekilas mata saya menyoroti antrean di Onuair, saya berteriak karena tiba-tiba ingat bahwa tas itu sudah saya kirim duluan. "Oh, ya ampun, saya sudah mengirimnya lebih dulu ke Antalya!" Sambil ngeloyor turun ke ruang tunggu, buru-buru saya minta maaf.

Agar bisa belanja, saya harus menukar uang dolar dahulu. Nilai per dolar kira-kira setara dengan 217 New Turkish Lira atau YTL. Berkenaan dengan mata uang Turki itu, ada hal yang sempat membuat saya keki. Bayangkan, pada mata uang edisi lama, ada sederet angka nol dalam jumlah jutaan di belakang tiap nominal yang tertera di mata uang. Akibatnya, saat melihat harga yang tertera di suatu produk, hati bisa berubah jadi was-was. Harga barang yang ditawarkan toko tiba-tiba terasa tidak masuk akal. Meski begitu, saat tahu nilai nominal aslinya, hati yang tadi berdesir bisa berubah jadi geli sendiri.

Beruntung, Turki saat ini memiliki kebijakan mata uang baru yang menghilangkan nol-nol di belakang. Sejak Januari 2005, selain Turkish Lira (TL), negeri itu juga menggunakan New Turkish Lira (YTL). Sebagai perbandingan, nilai 1 dolar AS misalnya, setara dengan 1.350.000 TL atau 1,35 YTL dan 1 Euro sama dengan 1.770.000 TL atau cukup ditulis 1,77 YTL.

Barang di sana cukup mahal. Sebagai gambaran, sebotol bir 0,5 liter seharga 2,8 Euro atau 5 YTL; satu pak rokok Marlboro isi 20 harganya 1,8 Euro atau 3,30 YTL; dan satu kali makan di restauran tarifnya 8,4 Euro atau 15 YTL. Bagaimana tarif kamar hotel melati? Ternyata tak terlampau mahal. Satu kamar di hotel melati semalam berkisar 16,9 Euro atau 30 YTL per orang.

***

PERJALANAN Istambul-Antalya bisa ditempuh dalam satu jam dengan pesawat. Di pesawat, penumpang hanya mendapatkan air mineral saja. Masih untung, penerbangan domestik di Indonesia menyediakan makanan ringan, bahkan dalam kereta api eksekutif sekalipun.


Lanskap Antalya

Begitu mendarat di Bandara Antalya, saya merasakan udara begitu dingin. Saya lihat peta menuju lokasi pertemuan yang ternyata tak seberapa jauh. Untungnya, shuttle bus belum berangkat. Untuk tujuan hotel berbintang empat, Best Western Khan Hotel saya rogoh kocek 8 YTL lebih murah 12 YTL ketimbang taksi.

Biasanya antara jam 12 malam hingga 6 pagi harga tiket transportasi naik 25 persen dibandingkan jam-jam biasa. Di depan bis, kondektur yang baik hati dengan bahasa Inggris berdialek Turki mencoba menolong mencarikan hotel yang saya maksud. Bahasa Inggrisnya sempat terbata- bata, kadang mengangguk-angguk, kadang tersenyum.

Ketika itu saya mengamati sudut-sudut kota Antalaya. Wow! Kota ini memang cantik, tertata meski tua dimakan usia.

Mescit atau Masjid dalam bahasa Turki sangat mudah ditemukan di kota-kota Turki. Antalya disinari sang mentari selama 300 hari setahun. Itulah sebabnya banyak turis mandi matahari, berenang, ski air, berlayar, selancar angin, naik gunung, dan olah raga lain. Meski datang pada bulan Maret, belum saya lihat salju di sekitar situ. Padahal biasanya pada bulan Maret dan April, orang-orang bisa bermain ski di pagi hari dan di sore hari berenang di air hangat air laut Mediterania. Kota tua ini pasti beruntung berada di ujung selatan negeri, hingga memiliki keindahan laut Mediterania dan menjadikannya sebagai wisata pantai terbaik di Turki, laiknya Bali di Indonesia atau Cebu di Filipina.

Menurut sejarah, Antalya ditemukan kali pertama tahun 159 SM oleh Attalos II, raja Pergamum, yang akhirnya menamakan kota itu sebagai Attaleia. Pada waktu itu terjadi perebutan kekuasaan kota. Salah satu saksi bisu nan megah adalah masjid yang dibangun oleh Setjuk sultan Alaeddin Keykybat di tengah kota pada abad 13 M. Inilah yang menjadi simbol kota Antalya.

Selain itu ada masjid-masjid pada masa Ottoman yang penting dibangun pada abad 16. Ambil contoh Masjid Murat Pasa dan Masjid Tekeli Mehmet Pasa yang dibangun pada abad 18. Dalam bahasa Turki, masjid adalah Mescit. Hotel yang kami huni dikelilingi masjid-masjid. Salah satunya bahkan ada di depan hotel. Ada getaran halus menerpa kulit saat azan nyaring mengundang masyarakat untuk beribadah.


***

SETELAH seharian berdiskusi dengan 15 partner untuk program pertukaran relawan 2005 dengan IIWC PKBI Jateng, Indonesia, ada keputusan menarik. Yakni, tawaran pengiriman dua relawan Indonesia ke UNA dan Concordia Inggris, 1 relawan matchmaking ke Republik Ceska via AEVE, 1 peserta ke Open House Jerman, dan masih banyak lagi. Paling tidak istilah tak kenal maka tak sayang terbukti karena kami hanya berkomunikasi melalui email selama 5 tahun terakhir ini.

Sorenya, semua 60 Koordinator LSM se-Eropa Timur dan 5 negara Asia (Indonesia, Thailand, Jepang, Korea dan India) mengikuti city tour. Dua bis putih dan kuning mulai merangkak keluar dari parkir Hotel Khan. Pelan tapi pasti, bis-bis wisata itu melewati jalan-jalan kecil di Antalya.

Si pemandu mulai berbla bla bla. Di tempat duduk paling belakang di sisi kanan, saya terlelap karena dingin. Begitu mata terbuka, di sana-sini banyak pohon tua yang tidak ditebang dan terawat dengan baik di sepanjang jalan. Bahkan beberapa pohon dibiarkan tumbuh tua di tengah jalan.

Waktu kami memang cuma 4 jam dengan tujuan pertama lokasi air terjun Kursunlu. Embusan angin beriklim 10 derajat celcius membuat saya menggigil. Setelah menolak tawaran jaket kulit milik Julien asal Italia, sweater buatan Indonesia yang melekat ditubuh ini tak mampu menahan hingga akhirnya jaket kulit Jinsu dari Korea berpindah tangan juga. Badan terasa hangat, pintu gerbang menguak keindahan alam Turki.

Namun dingin masih juga memaksa saya berlari kecil ke toilet Bayan untuk perempuan. Sebelumnya, saya bayangkan joroknya toilet di situ. Ternyata saya keliru. Lalu saya bergabung dengan teman-teman menyusuri jalan setapak yang mengitari air terjun. Airnya yang hijau bening membuat kami bisa melihat dasar tanah dan bebatuan. Di sebelah kanan adalah taman burung. Beragam burung langka bisa ditemukan bagai buluh perindu akan panggilan suara alam.

Satu jam berada di air terjun, kami bertolak ke tempat bersejarah. Yakni, sebuah reruntuhan gedung teater tua bernama Aspendos Amphitheater di timur Antalya.


Gora, kompleks pasar zaman kuno

Setibanya di sana, kami berlomba-lomba menaiki trap tempat duduk tertinggi. Tiba-tiba koordinator asal Jerman menyanyikan sebuah lagu layaknya Pavarotti atau Placido Domingo. Semua bertepuk tangan untuk "opera" spontan itu.

Saya jadi membayangkan bagaimana dahulu orang Turki menikmati hiburan di gedung antik yang pasti dulunya megah itu. Ya. Kadang-kadang para artis Turki dan sekitarnya menggunakan teater tersebut untuk galeri seni, akustik, dan lain sebagainya.

Berikutnya, pemandu kami pamer tentang keindahan Gora, sebuah kompleks pasar zaman kuno. Sayang sekali bangunannya sudah rusak. Namun sisa-sisa kemegahannya masih kentara terutama pada pilar-pilar yang masih berdiri tegak.

Di seputaran, ada tempat jagal hewan, taman tempat istirahat bersama dayang-dayang, kolam renang air panas khusus untuk kaum saudagar dan masih banyak lagi. Lahannya sangat luas, tapi keluasan itu seakan-akan melambaikan tangan mengajak kita mencermati setiap detil bebatuan di situ.(Gaganawati DPH-13)

Russberg Traditional Sosage

Here is my article I wrote in the national newspaper KOMPAS. It's about traditional food, traditional sosis from Rußberg, Germany. I believe this food is your daily menu but don't be hesitate to try the traditional one there. This will be served together with a glass of beer and traditional bread from traditional oven. Usually, some bikers and old people stopped by to be relax there. Hmmm ...

KOMPAS Update: Jumat, 25/08/2006, 11:34 wib
Resto Tradisional di Russberg





Makan menjadi hobi keluarga besar kami hingga mengantarkan diri ke sebuah restoran tradisional, Krone di Russberg, kota Rietheim, Jerman yang menjadi rekomendasi bagi Anda untuk beristirahat sembari mengisi perut dengan menu tradisional andalan.

Seperti tahun lalu, dalam perjalanan keliling Jerman berkali–kali kami lewati tempat yang memajang besar–besar huruf cantik “Gasthaus Krone“ atau dialihbahasakan sebagai Restoran Mahkota. Kali ini aku tak menyangka, sekonyong–konyong mobil yang memiliki dudukan kursi berjumlah tiga di depan ini berhenti tepat di halaman parkir yang terbentang di dekat sebuah lapangan sepak bola nan hijau itu.

Mike tersenyum, rupanya Oma Helga ngotot mampir meski kami merencanakan makan di Mini golf restoran. Opa Werner hanya tersenyum dan berujar “Sudah lama tidak …“. Kutatap beberapa orang yang sedang minum–minum di dua set bangku kayu. Belahan pohon itu tertanam di pelatarannya hingga memberikan nuansa warna coklat dan memendarkannya pada sekawanan yang bersepeda itu.

Ya, bersepeda menjadi pilihan rakyat Jerman untuk menjaga stamina di musim panas yang suhunya naik turun, kadang bisa panas 38 derajat lalu tiba–tiba awan menggumpal dan hujan menurunkan suhu hingga 18 begitu seterusnya. Begitulah, lengkap dengan helm, kaos, celana dan sarung tangan khusus untuk bersepeda mereka ini melepas lelah di restoran yang di sana bertengger sebuah pohon besar di sayap kiri. Mirip pohon Ek. Kulihat meja panjang di depan mereka, rupanya draft beer menjadi pilihan pengantar pulang dan tidur. Jika saja mereka menyetir mobil, pastilah tidak boleh dan berabe pula jika ketemu polizei alias polisi yang biasa mengendarai mobil bercat hijau sekali itu.

Terlihat ceria, kami memilih duduk di kursi–kursi plastik warna putih tepat didepan pintu masuk. Pandanganku menerawang ke jendela kaca. Di sebelah kanan seonggok jerami berbentuk boneka menyunggingkan senyum. Sementara sebuah pohon Dewandaru asyik menemaninya, bersama si lucu Sosor Bebek. Sederhana tapi mencuatkan nilai tersendiri dari ketuaan restoran. Memang warga negeri ini menyukai pernak–pernik dan tanaman yang dipajang di jendela. Bukannya pamer tetapi mereka ini menyenangi seni estetika meski rumah–rumah di sana tampak sederhana dari luar dengan polesan warna tak kentara seperti krem, putih, hijau tentara dan kuning gading.

Mike, Opa dan Oma terduduk rileks setelah seharian kami jalan–jalan ke Baerenhoele, semacam Goa Jatijajar. Menu telah dipesan. Ketiga orang bertubuh besar itu tampak berbincang dengan teman lama yang tadinya duduk di deretan kursi lain. Sementara, aku, Chayenne dan Kelvin mengitari halaman restoran. Tiba–tiba Kelvin berteriak “Wahhh, ada ayamnya di belakang resto!“ Aku bilang seperti di Indonesia saja rasanya. Herannya jika mereka punya banyak ayam kenapa tak disediakan dalam menu ya? Jadi mengingatkan diri pada ayam cakar Pak Kawit belakang Matahari.



Kini kami kembali duduk satu meja. Selang seperempat jam, sebuah tampah kecil berbahan bambu berisi tiga bongkah roti disodorkan kemeja kami oleh seorang perempuan yang nampak sedang hamil muda.

“Kamu lihat perempuan berbaju pink itu?“ sedikit berbisik Michael mengarahkan matanya ke pojok, tempat para pemuda yang naik sepeda itu akan mengakhiri persinggahannya diresto dan berbincang dengan si wanita tadi.

“Ya, cantik tipikal Jerman“ timpalku seraya bernyanyi kecil untuk Chayenne.

“Bukan itu yang kumaksud, sejak aku kanak–kanak, Mama Papa selalu mengajakku kesini untuk menikmati makanan tradisional Russberg. Waktu itu tempat ini masih milik nenek dari wanita itu. Lucunya, terakhir kali aku kesini ia masih keciiiil sekali, sekarang sudah besar dan hamil lagi. Oh, ya roti dimeja ini namanya Holzoven Brot. Handmade lho! Sejak pemilik dan pembuat roti itu meninggal, kini diteruskan anaknya Frau Elfriede Hauser. Suaminya, Herr Erwin masih sodaraan dengan pak Wali Rietheim, Herr Traugot Hauser. Masih ingat dia kan? Kita bertemu pas jalan–jalan dan beliau sedang berjalan ke arah Trink und Frisch buat observasi area kekuasaannya?

Seperti kebanyakan orang Jerman Frau Hauser tak punya anak banyak, selain mahal juga repot katanya. Lha yang tadi mengantar makanan itu anak perempuannya…“Aku mengangguk–angguk tanda mengikuti ceritanya. Kupandangi roti berwarna putih dibagian tengah dan coklat di pinggirannya itu. Wah, keras sekali akut akut gigiku rusak mengunyahnya. Oma Helga cerita ini karena pembuatannya dengan oven kayu dan sudah berjalan lebih dari 30 tahun.

Aku lahap satu porsi Bratwurst berisi dua batang sosis. Sosis sapinya bikinan sendiri. Bungkusannya terbuat dari usus sapi yang telah dibersihkan lalu diisi daging dan digodog. Itulah sebabnya harus berhati–hati mengirisnya karena muncratan air panas bisa–bisa mengenai muka, tangan atau bagian tubuh lain. Jika dicermati ada dua menu tradisional yang diandalkan; Schwane Bauch dan Bratwurst dengan harga sama E 4,9. Biasanya Schwane Bauch akan ditambahi sauerkraut atau lalapan semacam irisan kol putih berasa sedikit asam. Aku mengelengkan kepala saat Oma dan Kelvin menawariku berukang kali. Tak suka yang masam, gigi dan perutku tak kuat.

Selain dua menu tadi, ternyata beberapa menu dingin ditawarkan seperti vesper, wurstsalat atau keese alias keju. Gasthaus yang tepat berada di pinggir jalan ini juga menyediakan sofa dan kursi pada ruangan dalam yang hangat, tepat di depan bartendernya. Terasa nyaman raut muka orang–orang yang bercengkerama sehabis menikmati menu yang dipilih. Angin tak banyak tertiup.

“Bizalen …,“ kata Oma untuk meminta bon alias membayar makanan dan minuman. Kulihat daftar harga minuman, bir seharga E1,80 pergelas, jus jeruk yang kecutnya minta ampun itu E 1,30 serta teh dan kopi E 2,50. Total kami membayar E 39. Sementara gelas yang pecah tak sengaja, gratis. Michael yang merasa bersalah, meringis dan ngeloyor pergi.

Di dalam mobil, Opa Werner menanyakan perihal kesanku pada resto yang baru saja kami singgahi. Aku tersenyum dan mengomentari sosis dan roti yang kulahap dengan sapaan, wundervoll. Demikianlah, jika Anda sedang lewat, mampirlah barang sejenak dan rasakan nikmatnya menyantap makanan tradisional dengan nuansa yang berbeda dari biasanya.

Gana Stegmann

First Travel

Here is my article in the national newspaper in my country. It was in my 19. My parent cried letting my hands caught the plane. But I would like to go. I had to go, the scholarship was only for ME. God, Indonesian Red Cross was really fantastic to me. They managed all. I was like a bird. I still remember when I was kid, I said I wanna be an ambassador then I can travel around the world. I did it ... even not as an ambassador but I was an ambassador of mine and what I have.

KOMPAS Update: Selasa, 15/08/2006, 10:37 wib
Cebu, Bali–nya Filipina





Gawe akbar se Asia Pasifik bertajuk Sub Regional Youth Summit mengundang niatan untuk mengikuti seleksi di PMI Daerah Jateng. Seleksi ketat bersama peserta yang aku angkat topi betul membuat keder, surprise–surprise … akhirnya aku terpilih. Ini kali pertama aku keluar negeri, masih culun sekali. Sembilan belas tahun! Sepuluh tahun kemudian, ingatan itu masih lekat dalam neuron berwarna abu–abu di kepalaku.

Pak Sartoto, Mas Lucky, Pak Nasrun, Bu Yayuk, Bu Sharlita dan beberapa crew PMI SMA 2 Semarang sampai tingkat pusat membantu persiapan keberangkatan. Langkah gontai menggotong koper bapakku Setyadji Pantjawidjaja yang sudah tak baru. Aku terharu, orang tuaku waktu itu berlinang airmata melepas kepergianku yang tak lama, hanya dua minggu. Untung aku tak sendiri, karena Khong Khong terbang bersamaku dari Jakarta kesana. Jadilah perjalananku tak jemu–jemu.

Aku ditransfer burung besi dari Manila airport ke Cebu. Setiba di kota yang ditemukan Ferdinand Magellan ini, aku termangu. Ramai dan banyak bangunan tua menyapa disana–sini. Di Decs Ecotech Center tempat hunianku, telah hadir duta putra–putri dari Malaysia, China, Korea, Hongkong, Thailand, Laos, Myanmar, Australia, Jepang, Singapura, Vietnam, dan Filipina sebagai tuan rumah. Aku gelengkan kepala, banyak benar orang yang berbaju putih. Oh, rupanya mereka ini adalah siswa sekolah perawat dan kedokteran yang mengikuti beberapa bagian dalam summit IFRCRCS ini. Mabuhay! Tersiar kabar pula bahwa negeri asal Maribeth ini banyak mengirim TKW perawat keluar negeri. Ah, jadi ingat istri Uncle JC yang pernah jadi perawat di Amrik.



Hari berganti hari, usai sudah program yang dipenuhi diskusi, studi banding, ceramah dan yang pasti tak ketinggalan cultural exchange–nya. Kini didua hari terakhir, kami jalan–jalan di pulau yang memiliki luas tanah 5,088 kilometer persegi ini. Jeepney tak mampu memberi tumpangan rombongan. Hopla! Jadilah bus yang bolong alias berjendela tiada kaca mengantar kami mengitari daerah yang bergunung–gunung.

Kali ini tujuan kami adalah menilik paras ayu Cebu sebagai bagian dari negeri yang pernah dikuasai dua wanita perkasa Corazon Cojuangco Aquino tahun 1986 dan Gloria Macapagal Aroyo mulai 2000. Singkat cerita festival Sinulog, Magellan Cross dan benteng San Pedro terbetik dalam bait jadwal excursion kami. So, kesempatan untuk mendaki gunung Cabalasan 1,002 meter atau gunung Manungal 1000 meter tak mungkin tercapai. Semilir angin meniup rambutku yang panjang dan menepuk pipi tembemku. Sepanjang mata memandang, aliran sungai besar seperti Cabiangon dan Baliuagan menyegarkan tanah yang sering dilanda banjir dan erosi pada musim hujan dan kering di musim panas.

Bus mandeg dan ngeceng di halaman parkir. Berduyun–duyun kami menuju pusat keramaian. Genderang dan beragam musik tradisional lainnya memekakkan telinga dan membuat kami sedikit bergoyang sambil meringis. Ayayay, panas harus tak kuhiraukan karena terlihat barisan yang rapi nan warna–warni itu menampakkan keagungan sebuah festival yang kabarnya merupakan peringatan untuk Santo Nino. Sinulog hanya diselenggarakan pada bulan Januari pertahunnya.

Anamae yang selalu setia menemaniku mulai mencoreng moreng mukaku dengan jelaga, terus menarik tanganku untuk ikut dalam barisan yang menari itu. Tradisional sekali. Terik menjatuhkan tetesan keringat pada tubuhku. Seorang penjaja makanan mendatangi kami. Temanku yang sekolah perawat itu menerangkan, si penjual menawarkan balut, telur bebek matang yang sudah keluar bulunya. Spontan kuangkat lima buah jari tangan kananku pertanda tak mau. Kuseka keringat hingga bola mataku melihat beberapa peserta mulai kepayahan meski jatah mereka manggung satu persatu bak ular naga.

Jeffrey yang didaulat sebagai pemimpin rombongan meminta kami masuk ke dalam bis warna hijau tua itu, waktunya ke Magellan Cross. Tak berapa lama, kami injakkan ke sebuah tempat yang menarik. Disinilah momentum bersejarah Cebu dibidik. Ya. Cebu konon dikategorikan sebagai pulau ketiga terpenting diantara pulau–pulau Filipina, setelah Luzon dan Mindanao. Wow! Jadinya, Kota Cebu adalah kota metropolis kedua yang sangat penting setelah Metro Manila.

“Gana, ini tempat pertama kali pelaut asal Portugis Ferdinand Magellan yang menjadi duta Spanyol berhenti dalam ekspedisi ke Asianya di Cebu. Lelaki kelahiran 1480 itu meninggal 27 April 1521 di Hindia Timur sebelum kembali ke Eropa. Sedangkan delapan belas crew–nya kembali ke Spanyol pada tahun 1522. Menurut sejarah, wafatnya Magellan karena bertempur melawan Lapu–lapu. Belakangan Lapu–Lapu menjadi salah satu nama kota dan jalan di Cebu.

Lapu–Lapu yang lahir pada tahun 1490, dikenal sebagai seorang pahlawan Muslim di Pulau Maktan, Cebu, Filipina. Penguasa Maktan inilah yang menantang Magellan lantaran disuruh memilih tiga opsi: taat kepada Raja Spanyol, mengakui kepala suku Humabon sebagai tuannya, dan bayar upeti. Tentu saja jawabannya adalah tidak.

Anamae B Gever membenahi kacamatanya yang melorot. Katanya pula crew Magellan yang ikut juga ada yang berasal dari Italia, Australia dan Malaysia. Kupandangi gambar Ferdinand Magellan membaptis Raja Humabon sebagai penguasa Cebu, berikut 800 pengikutnya menjadi umat Katolik. Langit – langit altar itu berwarna–warni dan apik, kentara menjelaskan sejarah masa lampau. Jasad Magellan tak berbekas hingga kini disembunyikan Lapu – Lapu. Ia dikenang jasanya menjadikan Filipina, bangsa berpenduduk mayoritas Katolik. Lapu–Lapu sendiri diakui sebagai Pahlawan Filipina yang gagah berani melawan imperialisme Barat.

Matahari perlahan mulai turun dari singgasananya. Giliran benteng San Pedro kami jajaki. Aku dan gadis yang memakai bagel pink itu berlarian memegangi meriam Spanyol yang besar–besar dan nampak sangat tua itu. Klik, sok fotogenik aku bergaya. Sebelum kembali ke Ecotech, membeli souvenir menjadi pilihan kami. Kupilih satu set perhiasan dari siput laut warna putih, cantik. Teman–teman lain ada yang membeli hiasan lampu dari kerang, kain pantai, sapu tangan, topi, gitar dan masih banyak yang lainnya. Waktu itu satu peso kira–kira sama dengan seratus rupiah, sekarang ini $1 = PHP 52,7. Macam mata uangnya adalah PHP (Philippine Peso) 1000, 500, 100, 50, 20, 10 and 5 dengan koin PHP5, 2 and 1, serta 50, 25 and 10 sent. Gambar – gambar mantan presiden dan bunga melati menjadi satu dari sekian banyak symbol yang dipilih. Seingatku ada kata–kata Tagalog seperti Bagong.

Hari berikutnya hanya shopping di mal dan tak terasa jadwal departure tiba. Di airport, kulambaikan tangan pada mereka yang menganjurkan membawa travel check dalam mata uang dollar Amrik. Selain aman juga keuntungan dalam penukarannya di area yang kaya akan anggur, mangga, gitar, tembaga, emas, batubara, besi, perak dan pyrite ini. Adyos senor – senorita, mahal kita!

Gana Stegmann

Dirndel

What is Dirndell?


That's traditional costum from Germany (Bavarian). Here is the article I wrote in Indonesian national newspaper.

KOMPAS,Update: Kamis, 03/08/2006, 11:37 wib
Dirndel, Baju Tradisional Jerman/Bavarian



Masih ingat dibenak ini ketika kanak – kanak ingin sekali memiliki pernak – pernik seperti kepunyaan bulik R.Ay Narti Kusuma sang penyanyi keroncong era 80–an itu. Seperti pepatah berakit – rakit kehulu berenang – renang ketepian, kata–kata ibu masih terngiang di telinga “…kamu harus banya belajar, bekerja dan menabung untuk mewujudkannya, tidak boleh asal tunjuk…”. Ya, aku yakin aku bisa.

Kini, kesukaan akan perhiasan bagi perempuan mengajak langkah untuk menilik koleksi keperempuanan hingga Jerman. Menatap jajaran sepatu boot koleksi dari great sale di Denmark beberapa tahun lalu, inisiatif muncul. Nampaknya ada yang kurang dari yang terlihat, ohh … baju yang pantas untuk memadu padankan sepatu berhak tinggi dan memanjang keatas itu. Akhirnya, pilihan jatuh pada Dirndel yakni baju khas masyarakat Jerman khususnya bangsa Scwabish atau Bavarian …

“Do you have traditional custom here in Germany (apa rakyat Jerman punya baju tradisional?), tanyaku suatu hari pada Mike yang nampak makin subur saat pulang kampong.

“Ofcourse we have but difficult to find it here, we can reach it at another town. My mum knows some places too … (tentu susah nyari disini tapi mungkin di kota sebelah ada. Mamaku tau kok sejumlah lokasi pusat penjualannya …)”.

Kami pun bergegas menuju sebuah tempat yang letaknya 1 jam dari Rietheim, butik Die Alb Ruft. Sebenarnya ada lagi butik tempat penjualan Dirndell yang terkenal, Graseger, di kota Garmisch – Patenkirchen, tetapi musti ditempuh selama 4 jam perjalanan dengan mobil. Rasanya tak sanggup. Menguap mencari udara segar, mata memandang pinggiran autoban atau jalan tol yang hijau. Berkali–kali Kelvin sudah tak sabar untuk sampai di tempat tujuan, namanya juga anak–anak.

Akhirnya kami telah sampai di tempat yang terlihat sepi. Sebuah rumah kayu yang sunyi. Tak kami lihat pengunjung satu pun ditoko pakaian tradisional itu. Mulut komat–kamit. Terpampang sebuah kalimat dalam bahasa Jerman di papan kayu yang antik “Die Alb Ruft!Landhaus&Tracht” atau Alb Ruft, rumah dan pakaian tradisional di kota Alb Statt. Turun dari mobil, kupandangi bangunan berlantai dua yang terletak dipinggir jalan. Memasuki halaman yang nampak asri dengan bunga yang berwarna berani itu membuat kami semakin ingin tahu apa yang ada di toko.



Tapak kaki kami menaiki tangga kayu. Di sebelah kiri terpajang dua manikan lelaki dan perempuan dengan pakaian tradisional Jerman yang telah dimodifikasi sedemikian rupa. Sedangkan desain interiornya nampak cantik dengan pedati mini, jerami, roda pedati, kupu–kupu dengan bebungaan, ranting kering dan masih banyak lagi. Tersiar kabar, bakalan ada pesta country disalah satu desa yang mewajibkan para penikmat kehidupan malam di malam panjang tersebut untuk memakai baju semacam ini dengan segala pernak–perniknya. Bisa jadi dengan hitungan hari, butik ini bakalan kebanjiran pembeli.

Memasuki pintu dilantai dua ini berjajar rapi perhiasan bermaterial perak harganya cukup tinggi. Mata mengerjap melihat kilauan bebatuannya. Sedikit terpana, menghitung hari keberapa hingga mampu terbeli dalam daftar belanja kami. Tak mengapa, toh tujuan pertama adalah baju tradisionalnya.

Sebelum menuju dirndel, tergantung disana–sini tas dari kulit warna coklat dengan rata–rata harga E 35. Beberapa langkah pada menit kelima, kami menatap gantungan baju di sana. Aduh, cantiknya. Baju untuk Damen atau perempuan disebut Dirndl atau Dirndldresses. Kucoba mematut diri dengan Blusen atau blus, Damen Lederhosen atau celana kulit perempuan, dan Schuhe atau sepatu. Lalu dengan seksama Oma dan Mike memberi komentar.

Jarum panjang telah berputar pada bundaran jam penuh, kini giliran Mike. Kami beriringan menuju stand Herren untuk laki–laki. Lelaki ganteng ini akhirnya memilih hemden atau kaos berbahan goni. Sebenarnya, ia ingin pula membawa pulang jacken atau jaket dan westen atau rompi. Sayang tak ada yang mengena dihati si pirang. Katanya ini sudah cukup untuk memadankan dengan Hüte atau topi miliknya waktu dulu. Hutschmuck atau topi dekorasi tampil menawan pada display modern butik. Agak kepanasan, Kelvin mengajakku turun. Minta pulang, rengeknya.

Sepulang dari sana, kami kegirangan memamerkan belanjaan pada Opa. Segera kami berganti baju dan mendokumentasikan aksi fotogenik di kebun belakang. Klik, klik … Oma fotographer dadakan mengabadikan kami dikamera digital yang sempat jatuh terantuk batu kemarin. Oh, senangnya. Baju ini rencananya akan kami pakai dalam setiap festival yang ada di Jerman yang kami bisa kunjungi seperti Okto fest, Ferilicht village fest, Traditional Market, Statt fest dan lain – lain.

Demikianlah shopping baju tradisional Jerman di negeri yang baru saja dinobatkan sebagai juara ketiga dalam World Cup oleh FIFA, federasi yang terpuruk soal korupsi dengan beredarnya issu dalam buku “FOUL“.

Sekadar ide saja, jika datang ke Jerman untuk membawa oleh–oleh baju tradisional ini pada musim panas Mei–Agustus lebih baik mencari informasi kapan dan dimana Floh Markt diselenggarakan dahulu. Di pasar barang second ini biasanya barang–barang termasuk baju tradisional Jerman, Turki, Skotlandia dan lain sebagainya masih dalam kondisi bagus dengan harga terjangkau dan bisa ditawar. Atau jika termasuk internet user mania, bisa melalui ebay atau pembelian semacam auction atau lelang melalui web mereka dengan harga dan kurun waktu tertentu.

Terduduk kelelahan di banana bench berpayung merah, kami ngobrol di depan kolam ikan yang ikannya pada mati karena algae melebar kepermukaan airnya. Oma Helga mulai berceloteh tentang sejarah dari Dirndl atau baju tradisional Jerman dan Austria atau Bavarian. Tuturnya, dirndl adalah baju perempuan yang ditiru dari Trachten atau baju tradisional masa lampau. Ini terdiri dari leibl atau atasan, blus, rok lebar dan apron yang berwarna–warni.

Ceritanya, Dirndel dahulu adalah rok yang biasa dikenakan pembantu perempuan. Dalam bahasa Austria “Dirn“ berarti pembantu. Kata itu memotong kata Dirndlgewand atau rok pembantu. Namun, sekitar tahun 1870/1880 setelah Kaisar Franz Joseph membuat Lederhosen atau celana kulit dan Tracht atau rok naik daun. Bisa ditebak, kalangan bangsawan mulai meniru dan memodifikasi gaya pakaian ini sebagai pakaian modern dan mengenakannya di kala liburan musim panas.

Mengingat bangsa Jerman tak mau kelupaan akan sejarah masa lampau, memakai Dirndel pada umumnya bagai simbol kebanggaan sebagai bangsa yang telah bersatu bersamaan dengan runtuhnya tembok Berlin ini. Sedangkan menilik material, warna dan gaya, boleh dibilang telah banyak dimasuki ide para manusianya.

Aku anggukkan kepala berkali–kali tanda mengerti dan berterima kasih kepada wanita yang telah berusia 60 tahun ini tapi masih cantik sekali dan enerjik. Tiba–tiba saja teriakan Opa melengking dari lantai dua mengagetkan kami, “Essen“. Ya, perut sudah keroncongan, waktunya makan! Pucuk dicinta ulam tiba!

Gana Stegmann

Sunday, October 28, 2007

Welcome To My Village ...

View this slideshow created at One True Media

Let's Walk to My Village, folk!

My Family


QUE SERA – SERA



When I was just a little girl, I asked my mother; “What will I be?


will I be pretty? will I be reach”


Here, what she said to me,


“Que sera – sera, whatever will be will be …


The future is not ours to seen


Que sera – sera, whatever will be will be …”



When I grow up and fell in love, I asked my sweetheart how life’s ahead,


“Will it be rainbow day afterday?” here what he said to me;


“Que sera – sera, whatever will be will be …


The future is not ours to seen


Que sera – sera, whatever will be will be …”



When I have children of my own, he asked the mother “What will I be?,


Will I be handsome? Will I be reach?”


Here what I said to him;


“Que sera – sera, whatever will be will be …


The future is not ours to seen


Que sera – sera, whatever will be will be …”



P.S: Finally, I found out that


First of all, Yes! l look pretty ... At least to people who love and like me, and being rich to have such a kind sweetheart with our lovely kids.


Oh oh ... Life is just like a rainbow that sometimes is so red when in another time is so blue.


Moreover, my son is absolutely handsome as a papa copy ...


even I don't know yet whether he'll be rich or not.


Thanks God. We love you ... bless us always.


Welcoming Indonesia's Independence Day 2007

Okeyyyyyyyyyy, Indonesian community at 360 (Ingrid in UK, Cesilia in PNG, Tina in DE, Tika in US, Noer in HK, Budi-Lusy-Nia cs in INA …) sent me alert not to forget Indonesian Independence Day (17.8.2007) though we are far and away from our beloved country … Everyone has a duty to organize the ceremony on line. Ha-ha! We need to change our avatar and background with Indonesian identity (white and red flag, traditional costum, traditional food or other things) hurry uppppp.


Well, we did one of the play … filling water in bottles last July 2007. I was the first winner, Kelvin the runner up and Chayenne the third place as we were only three participants. Looking forward to another game at 17th!



Ya, it’s clear in my mind how we usually celebrated it annually, while the solemn ceremonies are taking place, neighborhoods gear up for fun and games for the kids. “Krupuk” (shrimp chips) eating contests, bike decorating, games, races and lots of fun fill the day. The women are busy in cooking contests to see who can make the biggest krupuk or the most delicious “nasi tumpeng” (yellow rice in cone’s form as you can read in my highlight). One of the most popular games is the “Panjat Pinang”. But we can’t do it as my palm is still 40 cm long. Hahahaaaa … An Areca palm trunk is erected in a public area and well greased with a mixture of clay and oil. At the top are hung various prizes like bikes and TVs. Whoever makes it to the top wins the prize. Needless to say there are a lot of slippery, muddy kids and grownups alike climbing over each other and struggling to reach the goal. A good time is had by all, especially the crowd watching the gaiety. Neighborhood associations often coordinate special activities for the neighborhood children and may request donations from homeowners to sponsor games and prizes for the children. Schools hold contests to see which class can decorate their room in the most patriotic manner as well as holding games and races amongst classes. I was the winner with coconut race (“kadang – kadang”?) in Manila, Philippines (it was a bit surprise to know we have similar traditional games). Yihaaaaaaa.





Neighborhood associations, or your local “RT” (neighborhood head), may organize a clean up of the area or “kerja bakti”. Drains are swept, weeds are cut back, debris is burned and public areas are repainted. Women are asked to provide snacks to the hard working men. Homeowners may be requested by the “RT” to fly the Indonesian flag for a set period of time before and after the holiday. As we live in Germany and become a minority so … we do at home ourselves. Clean here and there … All right, enjoy our video yaaaa … salam jrennnnnnnnnnnggggg …



p.s: The song I sang in toilet was one of Indonesian songs. Hi hi ... Chayenne took my camera caused the earthquake in the ending of this video J





View this slideshow created at One True Media

Filling bottles with water