Buku "terakhirku" (dok.pribadi)
Namaku, Gana. Lengkapnya Raden Roro Gaganawati Dyah Panca Harsanti. Aku lahir dan besar di Semarang. Saat ini aku bermukim di Jerman. "Kabur aja dulu?" Tidak, tentu tidak. Aku nggak kabur, kok. Aku menikah dengan orang Jerman di Semarang dan suamiku itu pada waktunya harus kembali ke tempat dia berasal karena kontrak kerjanya habis.
Tinggal di negeri 4 musim, kalian kira "pasti enak, ya." Tahukah kalian? Banyakkkk perjuangan yang harus aku tempuh dan pengalaman pahit yang harus aku jalani. Salah satunya, apa yang aku raih aku raih selama di Indonesia, harus aku mulai dari nol. Walaupun aku lulusan S2 Jurusan Bahasa Inggris UNNES Semarang, aku waktu itu susah sekali mencari kerja. Aku pernah kerja serabutan di sebuah swalayan selama seminggu dan jualan barang second di pasar amal. Ngeres.
Berita baiknya, juga banyak, sih. Banyak sekali hikmah yang aku dapat. Salah satunya, aku nggak menyangka kalau aku bisa menulis 11 buku dan puluhan buku kolaborasi dengan teman-teman komunitas. Sampai akhirnya, aku mendapat penghargaan sebagai blogger terbaik di Kompasiana.com tahun 2020. Dan Komunitas yang aku dirikan bersama teman-teman Kompasianer "Komunitas Traveler Kompasiana", menjadi "The Best Community" di Kompasianival tahun 2021 dan 2024. Sesuatu banget, ya. Pencapaian bersama yang meyakinkan manusia bahwa niat saja tidak cukup, melainkan butuh ketelatenan, kekompakan dan kekuatan batin. Tidak ada yang instan dalam hidup ini. Semua yang aku raih, tentu ada prosesnya, ada berdarah-darahnya. Di sini aku akan ceritakan sedikit tentang perjalanan menulisku selama 10 tahun, dari tahun 2015 sampai 2025. Kalian siap? Come on. Let's go.
Buku 38 WIB, alm.Thamrin Sonata, Kompasianer & aku (dok.pribadi)
Kenal Penerbit Dari Ngeblog
Waktu SMA, aku suka mendengarkan radio. Membayangkan suara penyiar yang aku dengar zaman itu, aku pikir orangnya kalau pria pasti ganteng presto, kalau perempuan secantik Barbie. Nggak menyangka, jika suatu hari aku diterima di sebuah radio di Semarang. Dari 700 pelamar, aku terjaring bersama 5 orang lainnya, menjadi penyiar Radio Jatayu 103 FM di Lantai XI Plasa Simpang Lima Semarang. Ngimpi apa, coba? Modalku waktu itu, ijazah D1 Politeknik Semarang Jurusan Sekretaris. Bisa jadi pengalamanku ke luar negeri menjadi catatan khusus, bahwa aku telah "melihat dunia" bak beberapa lembar buku telah kulahap. Mungkin saja, kemampuan bahasa Inggrisku menjadi talenta yang sangat dibutuhkan di radio waktu itu. Jadi, nggak hanya "little-little I can" lah.
Dari radio anak muda, aku pindah ke radio bisnis Smart 93,55 FM Semarang di Gedung HSBC Lantai VIII. Tempat itulah yang semakin mengasah kemampuan jurnalistik yang aku mulai sejak tahun 1996 di radio pertama tadi. Di radio kedua ini, aku belajar mencari berita dan mewawancarai narasumber untuk dijadikan sebuah produk seri "Smart and Beautiful." Dari produk suara rekaman wawancara menjadi produk tulisan yang aku ketik dan aku baca untuk rekaman seri itu. Naskah itu aku simpan rapi di laptop. Pikirku, "siapa tahu berguna."
Dan benar, saudara-saudara. Naskah itu bisa aku manfaatkan untuk menjadi sebuah buku pada Januari 2014. Kok, bisa? Sebab aku kenal seorang penerbit indie label yang juga penulis di Kompasiana.com sepertiku, almarhum Thamrin Sonata pada tahun 2013. Aku mengajukan naskah itu ke beliau untuk dijadikan buku. Naskah tersebut beberapa di antaranya, hasil wawancara di produk seri yang aku sebutkan tadi, sisanya aku kejar wawancara wanita-wanita yang aku kenal. Salah satunya, ibuku. Jadilah "38 Wanita Indonesia Bisa" atau aku singkat "38 WIB!" Nomor 38 aku pilih bukan karena nomor Porkas. Itu karena 1 Januari tahun tersebut, aku berulang tahun yang ke-38. Penanda khusus pada buku "pertamaku." Buku-buku terdahulu, sebenarnya sudah pecah telor. Jumlahnya ada 3 buah, yang aku buat di kedai foto kopi, dengan eksemplar terbatas dari tahun 2001-2003.
Kembali ke buku "pertamaku"ini; jika aku nggak suka menulis, pasti aku nggak akan menuangkan hati dan pikiranku dalam bentuk tulisan, nggak bakal mungkin aku terdampar ngeblog di Kompasiana.com. Nggak ngeblog di sana, pasti aku nggak kenal dengan pak Thamrin. Bisa jadi aku nggak menulis buku, dong. Semua ada alurnya. Semua Tuhan yang atur. Itulah, aku jadi makin yakin, bahwa ngeblog itu positif dan membawa berkah bagi semua. Nggak hanya untuk aku tapi juga kamu. Iya, kamu!
Peluncuran bukuku di KBRI Budapest (dok. pribadi)
Launching Bukuku di KBRI Budapest
Menerbitkan buku dengan penerbit independen sudah bagus, tapi belum cukup. Siapa, sih, yang nggak ngebet naskahnya diterima oleh penerbit besar seperti Gramedia atau Elexmedia? Di tahun inilah, aku mendapat kesempatan emas. Naskah yang aku kirim dari Jerman, akhirnya tiba di Jakarta, beberapa bulan kemudian. Sayang, naskah jadi tumpukan sampah di sana. Tuhan memang ada di mana-mana. Naskah sampahku dilirik lagi oleh editor Gramedia, Nana Listyani. Singkat cerita, bersama penulis Budi Maryono, jadilah buku "Bertahan di Ujung Pointe yang menceritakan kisah ballerina Jakarta, Jetty Maika.
Sesuatu yang menyenangkan itu, pasti bikin ketagihan. Kalau aku suka makan Silverqueen, pengennya beli lagi. Sama halnya dengan soal menulis buku. Karena pintu penerbit besar ini sudah terbuka, aku jadi ketagihan untuk mengirim naskah-naskah lainnya. Lagi dan lagi. Kalau naskah ditolak, dukun nggak bertindak. Aku kirim naskah lainnya atau aku kirim naskah yang ditolak ke penerbit indie.
Buntutnya, terbit buku-bukuku berikutnya seperti "I'm Happy to be 40" terbitan penerbit Leutikaprio Yogyakarta tahun 2016. Buku itu tentang pengalaman hidupku dari kecil sampai berumur 40 tahun. Salah satu babnya, mengupas tentang "Boring? Let's Blogging!" di halaman 78. Berikutnya, karena aku suka jalan-jalan dan kebetulan keluargaku juga begitu, aku menuliskannya menjadi "Exploring Germany." Aku beruntung bahwa penerbit Elexmedia Jakarta menerimanya pada tahun 2016. Rasa terima kasih yang tak terhingga pada editor yang membesarkanku; Risa, Winda dan Rena. Menyusul setahun kemudian, "Exploring Hungary" juga diterbitkan Elexmedia Jakarta. Dilanjut dengan "Festival Rakyat Hongaria yang Perlu Diketahui" yang terbit bersama penerbit indi. Buku itu mengupas kisah jalan-jalan kami di Hongaria. Lewat kedua bukuku itu, aku berharap teman-teman yang ingin pergi ke Jerman atau Hongaria bisa mendapatkan wawasan dan info terbaru tentang tempat-tempat yang bisa dikunjungi. Jika tidak, seenggaknya, itu menjadi kenangan bagus untuk memoriku. Maklum, manusia tempatnya lupa.
Happy ending-nya, gara-gara menulis buku "Exploring Hungary", aku mendapatkan piagam penghargaan dari Dubes RI Budapest 2014-2019, Dra Wening Esthyprobo Fatandari, M.A. Launching bukunya, diadakan di kedutaan di mana beliau bertugas. Bahkan, aku diizinkan menginap di Wisma Indonesia, di mana beliau tinggal. Sungguh pengalaman langka! Semua aku tulis di blog untuk memotivasi teman-teman supaya tak jera menulis.
Acara bedah buku "Unbelievable Germany" bersama mahasiswa UNESA (dok.pribadi)
Tulisan Blog Menjadi Buku "Unbelievable Germany" di Tahun 2017
Dari tahun 2014 sampai tahun 2017, jika dihitung, sudah ada 4 buku yang terbit. Cukup! Enak saja, tentu tidak, Marimar! Dan kebiasaanku menulis pun masih mengalir. Sekedar info saja, setelah aku jadi pembaca setia Kompasiana sejak tahun 2009, baru tahun 2011 aku menulis di platform keroyokan itu. Aku puas, ada 1530 artikelku yang dibaca 1.752.220 orang. Kira-kira 417 artikel tersebut menjadi headline. Semoga menginspirasi.
Kebanyakan tulisanku di sana, tentang pernak-pernik kehidupan di Jerman. Nah, naskah yang aku posting di Kompasiana, aku kumpulkan dalam satu folder. Beberapa di antaranya, diambil admin Kompasiana untuk diikutkan proyek buku "Kami Tidak Lupa Indonesia." Buku itu kompilasi tulisan diaspora Indonesia di seluruh dunia yang menjadi Kompasianer, blogger di Kompasiana. Masing-masing menceritakan pengalaman hidup di luar negeri. Dari puluhan artikelku, hanya sekitar 4 yang dibeli putus oleh penerbit "Bintang Pustaka." Artinya, nggak ada royalti di kemudian hari.
Sisa artikel aku simpan. "Siapa tahu bermanfaat", batinku. Nggak tahu kesambet mak Lampir atau kakek Jabat, aku memberanikan diri mengirim naskah yang sudah aku pilih dan pilah sesuai kategorinya tadi. Alhamdulillah diterima Elexmedia. Naskah tentang kehidupan di Jerman itu, benar-benar rilis sebagai "Unbelievable Germany" pada tahun 2017.
Bagi kalian yang sudah mulai ngeblog, jangan lupa menyimpan draft tulisan dengan rapi, ya. Jika ada waktu, baca lagi, edit lagi dan segera kirim ke penerbit. Siapa tahu beruntung.
Setahun kemudian, aku ingin membukukan foto-foto bagus di Hongaria. Karena aku suka seni, tema yang aku angkat adalah budaya yang ada di sana. "Festival di Hongaria yang Perlu Diketahui", aku ajukan ke penerbit indie Leutikaprio di Yogyakarta pada tahun 2018. Ubur-ubur ikan Lele. Aku jalan-jalan, terbitlah buku, Le.
Buku Terakhirku "Banyak Cara Menuju Jerman" di Tahun 2019
Aku bilang buku terakhir, tetapi tidak untuk selamanya. Maksudku, ini adalah buku terakhir yang aku tulis sebelum aku begitu sibuk di kehidupan dunia nyata, meraup euro. Jadi begini, tahun 2020 aku mulai kuliah lagi di Pendidikan Guru TK di Fritz-Erler Schule di kota Tuttlingen. Selama 3 tahun, aku benar-benar stress jabang Barbie. Dua hari kerja di Taman Kanak-Kanak dan tiga hari ke kampus. Belum pekerjaan rumah tangga dan mengurus suami, anak dan kebun rumah yang menyita energiku. Tekat bulatku untuk mendapatkan pekerjaan yang layak mendorongku untuk sampai garis finish. Akhirnya, aku lulus dengan gelar Bachelor Professional im Sozialwesen. Sesuai aturan negara bagian Baden-Württemberg tempatku tinggal, aku mendapatkan gaji 3300 Euro per bulan atau 50 juta rupiah. Lumayan, ya. Sebelum lulus pun, aku dapat uang saku. Enak, ya, sekolah saja dikasih uang sangu. Kalau di Indonesia dibuat seperti itu, nggak bakal pada kabur!
Walaupun aku super sibuk, aku tetap menulis di blog, tapi tidak sesering atau sebanyak seperti sebelumnya. Aku juga menulis tentang pengalamanku waktu pendidikan dan mengajar. Harapanku, ini akan menjadi bukuku tahun 2025 ini atau setidaknya, tahun depan. Soalnya, aku ingin banyak generasi muda yang mengikuti jejakku, menjajah Jerman untuk menjadi pengajar. OMG, Jerman kekurangan guru!
Oh, ya, isi buku "Banyak Cara Menuju Jerman" penting juga kalian baca, supaya kalian yang masih muda segera #kaburajadulu. Eh, maksudnya go international, supaya wawasan dan pengalaman kalian berkembang. Buku itu hasil wawancaraku dengan beberapa diaspora Indonesia yang ada di Jerman untuk program Au-pair, sukarelawan FSJ, kuliah, kerja dan menikah. Suara mereka telah aku pindahkan dalam bentuk tulisan di laptopku dan diterima Elexmedia untuk diterbitkan.
ASUS S13 (dok. ASUS)
Pentingnya Laptop Bagiku Sebagai Blogger dan Writer
Teman-teman sebangsa dan setanah air. Aku ngak bisa membayangkan, bagaimana jadinya kalau seorang blogger lupa membawa laptop ke mana ia pergi. Istilahnya, seperti wartawan lupa bawa pena atau alat rekam saat reportase.
Seingatku, laptop pertamaku lungsuran suami, produk ASUS tahun 2005. Kecil, tipis dan ringan mau dibawa ke mana-mana. Aku suka banget pakai notebook itu. Paling jauh aku bawa laptop ke Turki dan Jerman. Pernah notebook ASUS itu aku letakkan di kompartemen bus dalam perjalananku menuju sebuah pertemuan LSM di Antalya. Waktu turun, aku lupa mengambilnya. Sebelum tidur, aku baru ingat. Ya, Allah, panik! Untungnya aku masih menyimpan tiket bus di sakuku. Panitia begitu baik membantuku menelpon perusahaan bus tersebut. Keesokan harinya, sopir mengembalikan ke resepsionis hotel. Alhamdulillah masih ada orang yang baik. Sayang, aku nggak bertemu dengan pak sopir untuk mengucapkan terima kasih yang tak terhingga.
Kembali soal laptop dan kehidupanku menulis sebagai blogger. Nggak terasa sudah 5 kali aku ganti laptop. Dari waktu ke waktu, aku belajar disiplin dalam menyimpan data dan foto serta video dengan rapi. Karena aku juga penulis buku, kedua hal terakhir yang aku sebut, sangat penting dalam mendukung tampilan buku dan tulisanku di blog.
Karena aku juga mengelola Komunitas Traveler Kompasiana, selain laptop, aku membeli dua harddisk tambahan. Satu, khusus untuk kegiatan pribadi dan satunya lagi, khusus untuk Koteka. Dari laptop sampai kedua harddisk tadi, aku bersihkan dari waktu ke waktu. Baik laptop dan harddisk tadi, menjadi backup otakku.
Terima kasih, ASUS (dok. Gandjelrel)
Dukungan ASUS pada Komunitas Blogger di Indonesia
Setelah tahun 2005, aku berganti dari ASUS ke laptop buatan Jerman dan sekarang, aku menggunakan laptop buatan Amerika. Bukan, aku nggak niat pindah ke lain hati. Hanya saja, namanya dibelikan suami, aku menurut apa katanya. Nanti dikira jambu mete. Dikasih hadiah, kok milih. Enak, men. Andai dikasih laptop ASUS juga nggak nolak, sih. Mode melas.com.
Kemudian, satu hari aku dikenalkan temannya Tary, si Uniek. Tary itu teman lamaku sejak tahun 1998 di LSM. Uniek sendiri adalah bukan orang biasa. Dia ini bundanya blogger Gandjel Rel, komunitas blogger dari Semarang. Aku kagum dengan perjuangannya di komunitas itu. Melihat instagramnya, aku ngiler. Ah "rumput tetangga memang lebih hijau."
Perempuan berjilbab itu begitu bangga dengan laptop produk ASUS tahun 2025. Aku sudah tahu sejak lama bahwa ASUS itu tipis dan ringan. Hanya saja aku baru tahu dari dia bahwa ASUS itu juga canggih, baterainya awet dan layarnya aman untuk mata, tho.
Aku makin gemes, waktu Uniek promosi tentang produk-produk terbaru dari ASUS yang ramah AI di instagramnya. Ada Zenbook BUO (UX8406) laptop AI dengan layar ganda. Ada Zenbook S13 OLED (UX5304), Zenbook 14 OLED (UX3405). Bagi para pelajar yang notabene butuh laptop sesuai kantong, ada Vivobook 14 (A1404) dan Vivobook Go 14(E1404)
Aku sadar, aku punya mata ketiga. Walau nomor serinya 13, aku tahu bukan nomor sial. Kalau disuruh milih, aku lebih suka dikasih laptop Zenbook S13 OLED (UX5304) ini. Sebabnya, pertama, aku ini kan kecil orangnya, semampai-semeter tak sampai. Kalau aku harus menenteng laptop segaban ke mana-mana, jahat namanya. Apalagi aku orangnya sat-set, gerakanku selalu cepat. Kalau keberatan bawa laptop, bisa-bisa mobilitasku yang tukang pecicilan ini, terganggu. Zenbook S13 ini, konon merupakan laptop tertipis dan teringan sedunia. Tebal laptop hanya 1,18 cm dan berat sekitar 1 kg. Nggak salah kalau laptop ini diklaim 25% lebih tipis dibanding laptop sejenis. Bagaimana nggak tipis? Bahan yang dipakai untuk keyboard deck-nya, ternyata magnesium-aluminium.
Kedua, sejak kecil aku suka segala sesuatu yang berhubungan dengan ramah lingkungan. Apalagi aku tinggal di Jerman, negara yang sangat mengutamakan lingkungan di segala aspek kehidupan ini.
Sejak tahun 2009, aku menggalakkan pemakaian tas kain di Indonesia, seperti di Jerman. Namanya "My Bag is Your Bag." Jangan menggunakan tas kresek, Nda! Selain nggak ramah lingkungan, Indonesia kurang bagus dalam mengatasi masalah sampahnya, khususnya plastik. Program daur ulangnya kurang gencar, kurang meluas. Makanya, aku suka dan bangga sekali bahwa Zenbook S13 ini ternyata didesain ramah lingkungan. Meskipun bahan magnesium-aluminium itu adalah hasil daur ulang industri, kesan mewah laptop jenis itu tetap ada. Selain bahan itu untuk keyboard, rangka dan layar, ada bahan plastik daur ulang juga untuk tombol dan speaker-nya. Luar biasa. Dari sampah menjadi barang berguna dan canggih. Selamat atas diraihnya sertifikasi EPEAT Gold sebagai standarisasi produk ramah lingkungan, khususnya elektronik, ASUS! Bayanganku, andai aku memakai laptop ini, sama saja dengan aku mendukung program menyelamatkan dunia, dengan memakai barang daur ulang. Ciamik!
Hm, aku lihat harga promonya dengan hadiah mouse, dibandrol di kisaran Rp 22.999.000. Bisa dipesan di website resmi ASUS online store dan Blibli, lho. Artinya, satu juta rupiah lebih murah dari harga normal! Kata si Uniek, sih, terserah kita saja, mau yang mahal, mau yang murah, kita bisa menyesuaikan dengan kebutuhan dan budget yang ada. Pesanku, jangan pakai ngutang, nanti lupa bayar. Halah, apa kata dunia?
Terakhir, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada ASUS, bahwa merk bagus dan raksasa ini mau mendukung para blogger seperti kita-kita ini, apalagi yang emak-emak. Cara mereka mensponsori kegiatan Gandjel Rel misalnya, menjadi bukti nyata bahwa memasarkan barang elektronik seperti laptop nggak melulu soal keuntungan tetapi juga lebih kepada apa yang bisa dipersembahkan kepada bangsa dan negara. Dua jempol, empat malah, karena aku pinjam jempolmu. Dengan menghadiahkan laptop dan membiayai kegiatan para blogger, sama saja ASUS memotivasi setiap generasi muda Indonesia yang terlibat di dalamnya, untuk maju dan aktif dalam mengembangkan diri, tumbuh bersama teman-teman sealiran serta membangun negara menjadi lebih baik lagi. Bukan sebaliknya. Kegiatan "Lomba Blog 2015-2025 Perjalanan Ngeblogku" yang diadakan Gandjel Rel ini adalah salah satu contoh yang baik, dan bukan yang pertama kali diadakan,.
Baiklah, guys, semoga sharing artikelku ini mencerahkan kita semua bahwa tulisan itu akan abadi. Tulisan bisa disematkan di blog atau dibuat dalam bentuk buku. Setiap tulisan punya nasibnya sendiri-sendiri, kok. Nah, tunggu apa lagi? Sudahkah kamu menulis hari ini? Menulis, yuk!
Salam hangat dari Jerman.
Gana Stegmann.
NB: Artikel ini diikutsertakan pada "Lomba Blog 2015-2025 Perjalanan Ngeblogku" yang diadakan oleh Gandjel Rel.