Wednesday, February 26, 2025

10 Tahun Nge-Blog, Aku Rilis Banyak Buku dan Dapat Penghargaan, Le


Buku "terakhirku" (dok.pribadi)

Namaku, Gana. Lengkapnya Raden Roro Gaganawati Dyah Panca Harsanti. Aku lahir dan besar di Semarang. Saat ini aku bermukim di Jerman. "Kabur aja dulu?" Tidak, tentu tidak. Aku nggak kabur, kok. Aku menikah dengan orang Jerman di Semarang dan suamiku itu pada waktunya harus kembali ke tempat dia berasal karena kontrak kerjanya habis. 
Tinggal di negeri 4 musim, kalian kira "pasti enak, ya." Tahukah kalian? Banyakkkk perjuangan yang harus aku tempuh dan pengalaman pahit yang harus aku jalani. Salah satunya, apa yang aku raih aku raih selama di Indonesia, harus aku mulai dari nol. Walaupun aku lulusan S2 Jurusan Bahasa Inggris UNNES Semarang, aku waktu itu susah sekali mencari kerja. Aku pernah kerja serabutan di sebuah swalayan selama seminggu dan jualan barang second di pasar amal. Ngeres. 
Berita baiknya, juga banyak, sih. Banyak sekali hikmah yang aku dapat. Salah satunya, aku nggak menyangka kalau aku bisa menulis 11 buku dan puluhan buku kolaborasi dengan teman-teman komunitas. Sampai akhirnya, aku mendapat penghargaan sebagai blogger terbaik di Kompasiana.com tahun 2020. Dan Komunitas yang aku dirikan bersama teman-teman Kompasianer "Komunitas Traveler Kompasiana", menjadi "The Best Community" di Kompasianival tahun 2021 dan 2024. Sesuatu banget, ya. Pencapaian bersama yang meyakinkan manusia bahwa niat saja tidak cukup, melainkan butuh ketelatenan, kekompakan dan kekuatan batin. Tidak ada yang instan dalam hidup ini. Semua yang aku raih, tentu ada prosesnya, ada berdarah-darahnya. Di sini aku akan ceritakan sedikit tentang perjalanan menulisku selama 10 tahun, dari tahun 2015 sampai 2025. Kalian siap? Come on. Let's go.

Buku 38 WIB, alm.Thamrin Sonata, Kompasianer & aku (dok.pribadi)

Kenal Penerbit Dari Ngeblog
Waktu SMA, aku suka mendengarkan radio. Membayangkan suara penyiar yang aku dengar zaman itu, aku pikir orangnya kalau pria pasti ganteng presto, kalau perempuan secantik Barbie. Nggak menyangka, jika suatu hari aku diterima di sebuah radio di Semarang. Dari 700 pelamar, aku terjaring bersama 5 orang lainnya, menjadi penyiar Radio Jatayu 103 FM di Lantai XI Plasa Simpang Lima Semarang. Ngimpi apa, coba? Modalku waktu itu, ijazah D1 Politeknik Semarang Jurusan Sekretaris. Bisa jadi pengalamanku ke luar negeri menjadi catatan khusus, bahwa aku telah "melihat dunia" bak beberapa lembar buku telah kulahap. Mungkin saja, kemampuan bahasa Inggrisku menjadi talenta yang sangat dibutuhkan di radio waktu itu. Jadi, nggak hanya "little-little I can" lah. 
Dari radio anak muda, aku pindah ke radio bisnis Smart 93,55 FM Semarang di Gedung HSBC Lantai VIII. Tempat itulah yang semakin mengasah kemampuan jurnalistik yang aku mulai sejak tahun 1996 di radio pertama tadi. Di radio kedua ini, aku belajar mencari berita dan mewawancarai narasumber untuk dijadikan sebuah produk seri "Smart and Beautiful." Dari produk suara rekaman wawancara menjadi produk tulisan yang aku ketik dan aku baca untuk rekaman seri itu. Naskah itu aku simpan rapi di laptop. Pikirku, "siapa tahu berguna."
Dan benar, saudara-saudara. Naskah itu bisa aku manfaatkan untuk  menjadi sebuah buku pada Januari 2014. Kok, bisa? Sebab aku kenal seorang penerbit indie label yang juga penulis di Kompasiana.com sepertiku, almarhum Thamrin Sonata pada tahun 2013. Aku mengajukan naskah itu ke beliau untuk dijadikan buku. Naskah tersebut beberapa di antaranya, hasil wawancara di produk seri yang aku sebutkan tadi, sisanya aku kejar wawancara wanita-wanita yang aku kenal. Salah satunya, ibuku. Jadilah "38 Wanita Indonesia Bisa" atau aku singkat "38 WIB!" Nomor 38 aku pilih bukan karena nomor Porkas. Itu karena 1 Januari tahun tersebut, aku berulang tahun yang ke-38. Penanda khusus pada buku "pertamaku." Buku-buku terdahulu, sebenarnya sudah pecah telor. Jumlahnya ada 3 buah, yang aku buat di kedai foto kopi, dengan eksemplar terbatas dari tahun 2001-2003. 
Kembali ke buku "pertamaku"ini; jika aku nggak suka menulis, pasti aku nggak akan menuangkan hati dan pikiranku dalam bentuk tulisan, nggak bakal mungkin aku terdampar ngeblog di Kompasiana.com. Nggak ngeblog di sana, pasti aku nggak kenal dengan pak Thamrin. Bisa jadi aku  nggak menulis buku, dong. Semua ada alurnya. Semua Tuhan yang atur. Itulah, aku jadi makin yakin, bahwa ngeblog itu positif dan membawa berkah bagi semua. Nggak hanya untuk aku tapi juga kamu. Iya, kamu!

Peluncuran bukuku di KBRI Budapest (dok. pribadi)


Launching Bukuku di KBRI Budapest
Menerbitkan buku dengan penerbit independen sudah bagus, tapi belum cukup. Siapa, sih, yang nggak ngebet naskahnya diterima oleh penerbit besar seperti Gramedia atau Elexmedia? Di tahun inilah, aku mendapat kesempatan emas. Naskah yang aku kirim dari Jerman, akhirnya tiba di Jakarta, beberapa bulan kemudian. Sayang, naskah jadi tumpukan sampah di sana. Tuhan memang ada di mana-mana. Naskah sampahku dilirik lagi oleh editor Gramedia, Nana Listyani. Singkat cerita, bersama penulis Budi Maryono, jadilah buku "Bertahan di Ujung Pointe yang menceritakan kisah ballerina Jakarta, Jetty Maika.
Sesuatu yang menyenangkan itu, pasti bikin ketagihan. Kalau aku suka makan Silverqueen, pengennya beli lagi. Sama halnya dengan soal menulis buku. Karena pintu penerbit besar ini sudah terbuka, aku jadi ketagihan untuk mengirim naskah-naskah lainnya. Lagi dan lagi. Kalau naskah ditolak, dukun nggak bertindak. Aku kirim naskah lainnya atau aku kirim naskah yang ditolak ke penerbit indie. 
Buntutnya, terbit buku-bukuku berikutnya seperti "I'm Happy to be 40" terbitan penerbit Leutikaprio Yogyakarta tahun 2016. Buku itu tentang pengalaman hidupku dari kecil sampai berumur 40 tahun. Salah satu babnya, mengupas tentang "Boring? Let's Blogging!" di halaman 78. Berikutnya, karena aku suka jalan-jalan dan kebetulan keluargaku juga begitu, aku menuliskannya menjadi "Exploring Germany." Aku beruntung bahwa penerbit Elexmedia Jakarta menerimanya pada tahun 2016. Rasa terima kasih yang tak terhingga pada editor yang membesarkanku; Risa, Winda dan Rena. Menyusul setahun kemudian, "Exploring Hungary" juga diterbitkan Elexmedia Jakarta. Dilanjut dengan "Festival Rakyat Hongaria yang Perlu Diketahui" yang terbit bersama penerbit indi. Buku itu mengupas kisah jalan-jalan kami di Hongaria. Lewat kedua bukuku itu, aku berharap teman-teman yang ingin pergi ke Jerman atau Hongaria bisa mendapatkan wawasan dan info terbaru tentang tempat-tempat yang bisa dikunjungi. Jika tidak, seenggaknya, itu menjadi kenangan bagus untuk memoriku. Maklum, manusia tempatnya lupa. 
Happy ending-nya, gara-gara menulis buku "Exploring Hungary", aku mendapatkan piagam penghargaan dari Dubes RI Budapest 2014-2019, Dra Wening Esthyprobo Fatandari, M.A. Launching bukunya, diadakan di kedutaan di mana beliau bertugas. Bahkan, aku diizinkan menginap di Wisma Indonesia, di mana beliau tinggal. Sungguh pengalaman langka! Semua aku tulis di blog untuk memotivasi teman-teman supaya tak jera menulis.

Acara bedah buku "Unbelievable Germany" bersama mahasiswa UNESA (dok.pribadi)

Tulisan Blog Menjadi Buku "Unbelievable Germany" di Tahun 2017
Dari tahun 2014 sampai tahun 2017, jika dihitung, sudah ada 4 buku yang terbit. Cukup! Enak saja, tentu tidak, Marimar! Dan kebiasaanku menulis pun masih mengalir. Sekedar info saja, setelah aku jadi pembaca setia Kompasiana sejak tahun 2009, baru tahun 2011 aku menulis di platform keroyokan itu. Aku puas, ada 1530 artikelku yang dibaca 1.752.220 orang. Kira-kira 417 artikel tersebut menjadi headline. Semoga menginspirasi.
Kebanyakan tulisanku di sana, tentang pernak-pernik kehidupan di Jerman. Nah, naskah yang aku posting di Kompasiana, aku kumpulkan dalam satu folder. Beberapa di antaranya, diambil admin Kompasiana untuk diikutkan proyek buku "Kami Tidak Lupa Indonesia." Buku itu kompilasi tulisan diaspora Indonesia di seluruh dunia yang menjadi Kompasianer, blogger di Kompasiana. Masing-masing menceritakan pengalaman hidup di luar negeri. Dari puluhan artikelku, hanya sekitar 4 yang dibeli putus oleh penerbit "Bintang Pustaka." Artinya, nggak ada royalti di kemudian hari.
Sisa artikel aku simpan. "Siapa tahu bermanfaat", batinku. Nggak tahu kesambet mak Lampir atau kakek Jabat, aku memberanikan diri mengirim naskah yang sudah aku pilih dan pilah sesuai kategorinya tadi. Alhamdulillah diterima Elexmedia. Naskah tentang kehidupan di Jerman itu, benar-benar rilis sebagai "Unbelievable Germany" pada tahun 2017.
Bagi kalian yang sudah mulai ngeblog, jangan lupa menyimpan draft tulisan dengan rapi, ya. Jika ada waktu, baca lagi, edit lagi dan segera kirim ke penerbit. Siapa tahu beruntung.
Setahun kemudian, aku ingin membukukan foto-foto bagus di Hongaria. Karena aku suka seni, tema yang aku angkat adalah budaya yang ada di sana. "Festival di Hongaria yang Perlu Diketahui", aku ajukan ke penerbit indie Leutikaprio di Yogyakarta pada tahun 2018. Ubur-ubur ikan Lele. Aku jalan-jalan, terbitlah buku, Le.

Buku Terakhirku "Banyak Cara Menuju Jerman" di Tahun 2019
Aku bilang buku terakhir, tetapi tidak untuk selamanya. Maksudku, ini adalah buku terakhir yang aku tulis sebelum aku begitu sibuk di kehidupan dunia nyata, meraup euro. Jadi begini, tahun 2020 aku mulai kuliah lagi di Pendidikan Guru TK di Fritz-Erler Schule di kota Tuttlingen. Selama 3 tahun, aku benar-benar stress jabang Barbie. Dua hari kerja di Taman Kanak-Kanak dan tiga hari ke kampus. Belum pekerjaan rumah tangga dan mengurus suami, anak dan kebun rumah yang menyita energiku. Tekat bulatku untuk mendapatkan pekerjaan yang layak mendorongku untuk sampai garis finish. Akhirnya, aku lulus dengan gelar Bachelor Professional im Sozialwesen. Sesuai aturan negara bagian Baden-Württemberg tempatku tinggal, aku mendapatkan gaji 3300 Euro per bulan atau 50 juta rupiah. Lumayan, ya. Sebelum lulus pun, aku dapat uang saku. Enak, ya, sekolah saja dikasih uang sangu. Kalau di Indonesia dibuat seperti itu, nggak bakal pada kabur!
Walaupun aku super sibuk, aku tetap menulis di blog, tapi tidak sesering atau sebanyak seperti sebelumnya. Aku juga menulis tentang pengalamanku waktu pendidikan dan mengajar. Harapanku, ini akan menjadi bukuku tahun 2025 ini atau setidaknya, tahun depan. Soalnya, aku ingin banyak generasi muda yang mengikuti jejakku, menjajah Jerman untuk menjadi pengajar. OMG, Jerman kekurangan guru!
Oh, ya, isi buku "Banyak Cara Menuju Jerman" penting juga kalian baca, supaya kalian yang masih muda segera #kaburajadulu. Eh, maksudnya go international, supaya wawasan dan pengalaman kalian berkembang. Buku itu hasil wawancaraku dengan beberapa diaspora Indonesia yang ada di Jerman untuk program Au-pair, sukarelawan FSJ, kuliah, kerja dan menikah. Suara mereka telah aku pindahkan dalam bentuk tulisan di laptopku dan diterima Elexmedia untuk diterbitkan.

ASUS S13 (dok. ASUS)

Pentingnya Laptop Bagiku Sebagai Blogger dan Writer
Teman-teman sebangsa dan setanah air. Aku ngak bisa membayangkan, bagaimana jadinya kalau seorang blogger lupa membawa laptop ke mana ia pergi. Istilahnya, seperti wartawan lupa bawa pena atau alat rekam saat reportase.
Seingatku, laptop pertamaku lungsuran suami, produk ASUS tahun 2005. Kecil, tipis dan ringan mau dibawa ke mana-mana. Aku suka banget pakai notebook itu. Paling jauh aku bawa laptop ke Turki dan Jerman. Pernah notebook ASUS itu aku letakkan di kompartemen bus dalam perjalananku menuju sebuah pertemuan LSM di Antalya. Waktu turun, aku lupa mengambilnya. Sebelum tidur, aku baru ingat. Ya, Allah, panik! Untungnya aku masih menyimpan tiket bus di sakuku. Panitia begitu baik membantuku menelpon perusahaan bus tersebut. Keesokan harinya, sopir mengembalikan ke resepsionis hotel. Alhamdulillah masih ada orang yang baik. Sayang, aku nggak bertemu dengan pak sopir untuk mengucapkan terima kasih yang tak terhingga.
Kembali soal laptop dan kehidupanku menulis sebagai blogger. Nggak terasa sudah 5 kali aku ganti laptop. Dari waktu ke waktu, aku belajar disiplin dalam menyimpan data dan foto serta video dengan rapi. Karena aku juga penulis buku, kedua hal terakhir yang aku sebut, sangat penting dalam mendukung tampilan buku dan tulisanku di blog. 
Karena aku juga mengelola Komunitas Traveler Kompasiana, selain laptop, aku membeli dua harddisk tambahan. Satu, khusus untuk kegiatan pribadi dan satunya lagi, khusus untuk Koteka. Dari laptop sampai kedua harddisk tadi, aku bersihkan dari waktu ke waktu. Baik laptop dan harddisk tadi,  menjadi backup otakku.
Terima kasih, ASUS (dok. Gandjelrel)

Dukungan ASUS pada Komunitas Blogger di Indonesia
Setelah tahun 2005, aku berganti dari ASUS ke laptop buatan Jerman dan sekarang, aku menggunakan laptop buatan Amerika. Bukan, aku nggak niat pindah ke lain hati. Hanya saja, namanya dibelikan suami, aku menurut apa katanya. Nanti dikira jambu mete. Dikasih hadiah, kok milih. Enak, men. Andai dikasih laptop ASUS juga nggak nolak, sih. Mode melas.com. 
Kemudian, satu hari aku dikenalkan temannya Tary, si Uniek. Tary itu teman lamaku sejak tahun 1998 di LSM. Uniek sendiri adalah bukan orang biasa. Dia ini bundanya blogger Gandjel Rel, komunitas blogger dari Semarang. Aku kagum dengan perjuangannya di komunitas itu. Melihat instagramnya, aku ngiler. Ah "rumput tetangga memang lebih hijau."
Perempuan berjilbab itu begitu bangga dengan laptop produk ASUS tahun 2025. Aku sudah tahu sejak lama bahwa ASUS itu tipis dan ringan. Hanya saja aku baru tahu dari dia bahwa ASUS itu juga canggih, baterainya awet dan layarnya aman untuk mata, tho.
Aku makin gemes, waktu Uniek promosi tentang produk-produk terbaru dari ASUS yang ramah AI di instagramnya. Ada Zenbook BUO (UX8406) laptop AI dengan layar ganda. Ada Zenbook S13 OLED (UX5304), Zenbook 14 OLED (UX3405). Bagi para pelajar yang notabene butuh laptop sesuai kantong, ada Vivobook 14 (A1404) dan Vivobook Go 14(E1404)
Aku sadar, aku punya mata ketiga. Walau nomor serinya 13, aku tahu bukan nomor sial. Kalau disuruh milih, aku lebih suka dikasih laptop Zenbook S13 OLED (UX5304) ini. Sebabnya, pertama, aku ini kan kecil orangnya, semampai-semeter tak sampai. Kalau aku harus menenteng laptop segaban ke mana-mana, jahat namanya. Apalagi aku orangnya sat-set, gerakanku selalu cepat. Kalau keberatan bawa laptop, bisa-bisa mobilitasku yang tukang pecicilan ini, terganggu. Zenbook S13 ini, konon merupakan laptop tertipis dan teringan sedunia. Tebal laptop hanya 1,18 cm dan berat sekitar 1 kg. Nggak salah kalau laptop ini diklaim 25% lebih tipis dibanding laptop sejenis. Bagaimana nggak tipis? Bahan yang dipakai untuk keyboard deck-nya, ternyata magnesium-aluminium.
Kedua, sejak kecil aku suka segala sesuatu yang berhubungan dengan ramah lingkungan. Apalagi aku tinggal di Jerman, negara yang sangat mengutamakan lingkungan di segala aspek kehidupan ini.
Sejak tahun 2009, aku menggalakkan pemakaian tas kain di Indonesia, seperti di Jerman. Namanya "My Bag is Your Bag." Jangan menggunakan tas kresek, Nda! Selain nggak ramah lingkungan, Indonesia kurang bagus dalam mengatasi masalah sampahnya, khususnya plastik. Program daur ulangnya kurang gencar, kurang meluas. Makanya, aku suka dan bangga sekali bahwa Zenbook S13 ini ternyata didesain ramah lingkungan. Meskipun bahan magnesium-aluminium itu adalah hasil daur ulang industri, kesan mewah laptop jenis itu tetap ada. Selain bahan itu untuk keyboard, rangka dan layar, ada bahan plastik daur ulang juga untuk tombol dan speaker-nya. Luar biasa. Dari sampah menjadi barang berguna dan canggih. Selamat atas diraihnya sertifikasi EPEAT Gold sebagai standarisasi produk ramah lingkungan, khususnya elektronik, ASUS! Bayanganku, andai aku memakai laptop ini, sama saja dengan aku mendukung program menyelamatkan dunia, dengan memakai barang daur ulang. Ciamik!
Hm, aku lihat harga promonya dengan hadiah mouse, dibandrol di kisaran Rp 22.999.000. Bisa dipesan di website resmi ASUS online store dan Blibli, lho. Artinya, satu juta rupiah lebih murah dari harga normal! Kata si Uniek, sih, terserah kita saja, mau yang mahal, mau yang murah, kita bisa menyesuaikan dengan kebutuhan dan budget yang ada. Pesanku, jangan pakai ngutang, nanti lupa bayar. Halah, apa kata dunia?
Terakhir, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada ASUS, bahwa merk bagus dan raksasa ini mau mendukung para blogger seperti kita-kita ini, apalagi yang emak-emak. Cara mereka mensponsori kegiatan Gandjel Rel misalnya, menjadi bukti nyata bahwa memasarkan barang elektronik seperti laptop nggak melulu soal keuntungan tetapi juga lebih kepada apa yang bisa dipersembahkan kepada bangsa dan negara. Dua jempol, empat malah, karena aku pinjam jempolmu. Dengan menghadiahkan laptop dan membiayai kegiatan para blogger, sama saja ASUS memotivasi setiap generasi muda Indonesia yang terlibat di dalamnya, untuk maju dan aktif dalam mengembangkan diri, tumbuh bersama teman-teman sealiran serta membangun negara menjadi lebih baik lagi. Bukan sebaliknya. Kegiatan "Lomba Blog 2015-2025 Perjalanan Ngeblogku" yang diadakan Gandjel Rel ini adalah salah satu contoh yang baik, dan bukan yang pertama kali diadakan,.
Baiklah, guys, semoga sharing artikelku ini mencerahkan kita semua bahwa tulisan itu akan abadi. Tulisan bisa disematkan di blog atau dibuat dalam bentuk buku. Setiap tulisan punya nasibnya sendiri-sendiri, kok. Nah, tunggu apa lagi? Sudahkah kamu menulis hari ini? Menulis, yuk!
Salam hangat dari Jerman.
Gana Stegmann.

NB: Artikel ini diikutsertakan pada "Lomba Blog 2015-2025 Perjalanan Ngeblogku" yang diadakan oleh Gandjel Rel





Tuesday, November 6, 2007

Jogja Quake


Again in Asia Pacific ... Earthquake! Kolaka in Sulawesi with 5,2 SR on Wednesday - 27th December, Yogya with 3 SR (three times) on Thursday - 28th December and Papua New Guenea got earth quake in 4,9 SR on Friday - 29th December 2006. They said there will be no more Tsunami. Oh, my husband and I have just finished the Tsunami documenter, in Deutsch version. Tragic! Life oh life!

Sedih sekali, Indonesia kena Tsunami. Mulai Sulawesi, Jawa sampai Papua. Suami dan saya baru saja menonton dokumenter bencana Tsunami dalam bahasa Jerman. Berdoa dari jauh, untuk para korban.

Cemetry There

Friday December 29, 2006 - 10:28pm (CET) Edit | Delete | Permanent Link | 0 Comments

Meno

Menopause (Meno) sounds scary ya? When will be mine? What could be happened? Am I ready for this? Now, I consume much cheese and milk. Anyway, I found the article in Kompas (red: Nova) just for my better knowledge.

1. It's not totally right that most of women got Meno in 50's. Most of them got it in 51 or 52 years but women (one another) will get Meno differently. For example A got it in her 30's meanwhile her mother got it in 50's and the aunty got it in 60's.

2. Women will get Meno syndrom (even in the period) few years before the last period. The period could be different than it used to be (longer or shorter) because of the hormon. Women still have a chance to be pregnant.

3. Before the Meno, it’s a big possibility to have hot flash even not all women get it. Approximately 80 – 85% women got it in pre or pasca Meno. To minimize the Hot flash; don’t drink alcohol and no spicy food. In another side estrogen therapy with doctor’s advice could be another choice.

4. Irregular period is commonly happened in pra Meno but not normal in pasca’s. See a doctor is the best way for this phase.

5. Women will get osteoporosis pasca Meno. Do right exercise is the tip to keep the bone strong. Second, consume a lot of calcium and vitamin D in food and drink.

6. Pipi problem in pasca Meno is also annoying. Estrogen is lower then many times should go to toilet even not really much out, pipi on pants,pipi in the middle of the night, pipi when laughing, sneezing or carrying heavy things, pipi when having sex or feel pain when pipi.

7. Most of women get Meno in 50’s and need longer time to be sexually flirted. In this phase, skins around vagina is thinner and dried thus can caused pain and uncomfortable feeling when having sex. One to another woman are different to face this phase. Some women enjoy sex with partner without afraid to be pregnant pasca Meno.

8. Some women will get problem to sleep in pra and pasca Meno. This will be worst to the closest phase of Meno. The example of the problems are; hard to sleep, too deep sleep,sleep again after woke up in the middle of the night or wake up too early.

9. The syndrom from sudden Meno will be worst. The sudden Meno can be happened from operation or cancer treatment. More care is needed here.

10. Meno is a natural process. Some women can handle the syndrome without medicine while others need a help from doctor.

Menopouse, setiap perempuan akan mengalaminya. Ternyata setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda-beda.  Banyak sebab dan faktor yang mempengaruhinya. Tentunya selain makanan dan minuman juga gaya hidup. Bye-bye stress.

Tags: meno_ | Edit Tags



Friday December 29, 2006 - 10:05pm (CET) Edit | Delete | Permanent Link | 0 Comments



Friday December 29, 2006 - 02:37pm (CET) Edit | Delete | Permanent Link | 0 Comments

Cemetry here and there
It was my wish from my sweet husband to visit cemetry from his family. He said he had a feeling to do so. It's not really common for his community but ours; yes! So, why not ... just be in his side.
First, his sentence was ..."No radio for today" and I was just giggling like a cockroach. Hi hi ...
It was so cold (minus 1), Chayenne cried a lot when we started to visit his cousin Ralf. He was burried together with his Papa. It was a big tragedy loosing him in this earth ... not that way ... a-a.
In my community, we believe when baby cried in the grave means s/he sees the spirit or scared with the atmosphere; sorrow!
I held her tight and she was fine. This little crunchy girl looked at Papa and brother who lightened the candle.
We went around to see Uhr Oma Maria Stegmann from Opa's and Uhr Oma Elizabeth Mattes. O - o ... she started to cried much more ... I held her again from the trolley. Cup cup ...
Above this all ... I could see how the grave management here is so nice and disciplin. In my country, we have to jump and look step by step when visiting.
They are not really taken care. One goes to North and other to other directions. That's not really beautiful and messy.But what can I do? Even the small path to go from one grave to another grave already occupied. My God!
In Germany, we have 20 or 25 years contract with few thousands Euro. When finished the dust or the bones should have a farewell party and the place welcomes any dead man.
In Indonesia, I guess we have the same with the payment system and contract things but somehow I am afraid of the corruption.
What else? I am afraid to die in Germany. I had an experience to stand up in such temperature in the funeral of one of our relative. Not so many people and sooo hard. I will not see hundreds people coming in my grave to say good bye for the last time.
Then my husband said; "Please put wood not stone in my grave then I will feel warmer ..." Sniff sniff ...
I will not see the tradition for my community's funeral. With the shower (full of jasmine and roses), with the one sheet white cloth, with the only one wood and the roll soil (together with the prayer) ...
Only God knows why and how it will be ...

Oh yee, I found in the newspaper that we have the broker or agent for exclusive cemetry. We can say, it might be a good business in Indonesia (especially for rich people who are willing to really rest in peace and luxurious). Mount Carmel have the exhibition in Mall Ciputra at 29th December to 9th January. They explore the 100 ha grave in Kawengen and Mluweh village, Ungaran in Semarang regency. It's like Beverly Hills with a beautiful panorama, inovative design, law right, 24 hours security, krematorium and dust house, 24 hours marketing service, 1700 lot space and many more. But of course it's like the proverb in Indonesia; "ada uang ada barang" (if you have many you get things you want". For common people in Indonesia the prices are crazily hang the pocket. For single costs Rp 8.000.000, double grave Rp 16.000.0000, double delux Rp 21.000.000, double special Rp 42.000.000, family Rp 95.000.000 and super family Rp 375.000.000. The difference is only the size of the grave. For example Royal family will have 24x36 meter square. This will load 18 people in. The marketing target itself are investor (for investment), relocation (moving from another grave) and on the day's request. It's a fantastic rate that 50 lot already booked and will start to burry dead people in March 2007.

Berkunjung ke makam Jerman dan Indonesia, jadi tahu bedanya. Makam di Jerman lebih rapi. Kontraknya 20 tahunan. Mau dibakar atau dikubur (kubur tunggal atau bersama keluarga), harganya beda. Bagaimana di Indonesia. Kalau TPU di daerah tempat tinggal orang tua, banyak yang tidak terawat, terkesan angker. Coba bandingkan dengan TPU Belanda di Kalibanteng yang bersih dan rapi. Ini contoh yang kami lihat di Jerman, super rapi dan indah. Ada bunga, bebatuan dan nisan yang cantik.

Tags: cemetry | Edit Tags



Friday December 29, 2006 - 02:30pm (CET) Edit | Delete | Permanent Link | 1 Comment

Bakso

My husband was so lovely. He cooked Bakso (typical Indonesian soup with round meat and noodle). My question was, "What meat is it?" Ohhh ... a little bit tiring since no guaranty here :)
From the mince meat, he made a roll with his big hand and put some sup from the Goose meat and Indonesian instant noodle in. Hmmm yammy.
In my country I can eat everywhere in 'warung' with only Rp 3.500 or 0.30 Euro. Oh oh ... Bakso Marem in front of the Mosque, Bakso behind Matahari next to Pak Kawit or the Bakso Pak Kumis in Matahari department store. Lekker!
So, I'm lucky he likes to cook for me as his kindness which will not be happened manytimes to Indonesian couple in my country. Wife must cook! She has to be the friend of the kitchen. That's our tradition or centuries. No matter how high your education is, how beautiful you are, how independent you are, how sexy you are ... in our community we call women should be with 3 M; Manak (have kids), Macak (dress up), masak (cook)! Hey, it's no big deal ... I'm in pleasure to do that.

Bakso adalah makanan kesukaan saya dan sebagian besar orang Indonesia. Itulah sebabnya, suami saya senang membuatnya di rumah untuk saya. Saya biasa menganjurkannya memakai daging giling sapi, dicampur kanji dan air es. Daging harus halus sekali. Bumbunya bawang merah, bawang putih, merica dan garam.

Wedding In Germany


I found the cards given in our wedding day in Germany. Before I throw it away to rubbish bin, it's better I rewrite in this blog:

Von euer Eltern aus Deutschland! Alles Gute fur eueren gemeinsamen Lebensweg! Wunscht euch Oma&Opa.

Man hat das Boot (Man has a boat), Man hat die Segel (Man has a sail), Man wartet auf den Wind (Man is waiting for the wind). Wir wunschen Geduld beim warten (We wish patience for waiting), eine Feste Hand am Ruder wenn es sturmt (a strong hand on the padle, happiness wth the storm) und viel freunde wenn der Wind die segel blakt (and many friends when the wind blows the soil) und sich das Boot wie mukelos seinem tiel nakert (and the boat approach easily to the target). Ihre Tessendorf (Yours Tessendorf).

Lieber Bernd, Liebe Gana ... Wir wunschen euch von Herzen viel Gluck auf dem gemeinsamen lebensweg (Roberto, Silvano, Linda, Tanja und Sara).

Liebes Brautpaar (Dear Wedding couple), wir wunschen euch viele gluckliche Stunden (we wish you many happy hours) und alles Gute auf eurem gemeinsamen Lebensweg (and all the best for your united way of life). Veronika and Hermann.

ABC fur the Ehe (ABC for Wedding); Als erstes soll die Liebe steh'n (first should be love), Beide sollt ihr immer zueinander steh'n (Both should stand together), Charmant sollt ihr sein in eurer Ehe (Charming should be your married). Dann ... bleibt ihr glucklich, was auch geschehe (then you'll stay happy whatever will be happened). Waltraud&Hans.

Dear Bernd, dear Gana, congratulations to your wedding. I wish you all the best to your future. Hopefully it will be an unforgetable day for you and your friends. Thanks for your invitation and may be we can meet each other again soon, may be in Semarang. Terima kasih dan sampai jumpa. Fabian.

Saya menemukan kartu ucapan saat menikah di Jerman. Mulai dari keluarga Tessendorf, mertua, keluarga Henkel, keluarga Wagner dan lainnya. Agak berbeda dengan waktu menikah di Indonesia yang ramai dan meriah, pernikahan di Jerman agak khusus. Hanya keluarga dekat saja yang diundang. Masih ada tradisi seperti jaman dahulu ketika pengantin dihadiahi barang-barang kebutuhan berumah tangga. Saya dapat jarum dan kawan-kawan. Termasuk, amplop.

My Beloved Village

My lovely village, a favorite place ever.
There is a place where my parents stay.
I will never forget.
I miss you as always.

Desaku yang kucinta pujaan hatiku
Tempat ayah dan bunda dan handai tolanku
Tak mudah kulupakan, tak mudah bercerai
Selalu kurindukan desaku yang permai.

MY B Day

Ich bin Gaganawati Dyah Panca Harsanti oder Gana Stegmann
und war in 1.1.1976 geboren dann bin ich 31 Jahre alt.
Ich komme aus Indonesien aber jetzt wohne ich in Deutchland.
Ich habe kein beruf (nur Hausfrau). Das war eine schöne Zeiten als Radio Moderatorin und Lehrerin für viele Jahre in mein Heimat.
Vielleicht, ich habe Indonesia immer noch vermisst.,
Ich spreche Indonesisch, Javanisch, English und jetzt ein bisschen Deutch. Ich habe Franzosisch und Japanisch auch gelernt aber so lange nicht mehr geübt dann habe ich ja vergessen. Oh, nein!
Mein Hobby sind schreiben, mallen, tanzen, singen, spazieren gehen und einkaufen!

Na ja ... das bin ich.
Vorgestern, habe ich ein Geschenk von meiner Freundine; Monica, Kalaya und Pawinee. Danke schön!
Das rote Ohrringe gefällt mir sehr.
Ich wunsche mir Gesundheit und alles gute, für mich und alle.
Endlich, hat mein man ein Hause gekauft ... home sweet home!

Nama saya Gana Asli Indonesia tinggal di Jerman. Menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah variasi hidup yang luar biasa. Saya pernah bekerja lama di kantor. Saat yang indah.

Dan keindahan di mana-mana itu sama, seperti halnya saat berulang tahun dan mendapat ucapan serta kado dari teman-teman. Sepasang anting-anting emas dengan bebatuan warna merah. Indah!